Pages

Bunga Terakhir

Senin, 22 Mei 2017



Bunga Terakhir
“Aku mau pergi perpisahan, kak.”
“Jangan. Kamu harus di sini.”
Seharusnya aku tidak punya alasan untuk melarangmu pergi. Pergi mengatakan selamat tinggal kepada teman-temanmu. Selamat tinggal atas tiga tahun yang telah kau lalui di bangku SMP. Andai saja aku membiarkan kamu pergi, mengizinkanmu untuk menemui teman-temanmu yang berhak mendapatkan ucapan selamat tinggal darimu. Jika aku lakukan mungkin teman-temanmu yang ada di depanmu ini bisa memotret gambar dirimu bersama mereka di suasana yang ceria atas kelulusan kalian untuk yang terakhir kalinya.
“Selamat jalan, dik.”
Kamu ternyata bukan saja ingin menghadiri acara perpisahan sekolah, tapi kamu sekaligus mengadakan perpisahan dengan dunia. Maafkan kakak yang tidak bisa menjadi pengganti ibu untuk menjaga mu hingga sehat. Kamu bahkan sangat tersiksa dengan kekalahan melawan penyakit yang kau derita. Kamu kalah, tapi kamu menang karena lebih cepat bertemu dengan orang yang sama-sama kita sayangi.
Hari ini atas nama Melati pergi untuk selamanya. Penyakit yang menyebabkan kematiannya belum dapat dipastikan karena tim medis hanya dapat mendiagnosis sampai pada kerusakan sistem pernapasan. Dengan demikian, sampel darah dan liur akan segera dicek di beberapa laboratorium rumah sakit yang memiliki kelengkapan alat medis yang lebih canggih.
Kurun waktu sembilan hari. Aku merasa langit begitu marah kepadaku. Aku merasa mentari enggan tersenyum hingga menerikkan cahayanya. Bulan seperti ingin terus meredupkan sinarnya. Bunga-bunga yang aku jaga hingga tumbuh kembang sempurna kini dipetik oleh Tuhan selama sembilan hari. Aku tidak tahu bagaimana menghabiskan air mata. Aku bahkan lupa bagaimana permukaan pipiku dapat kering. Lekukan bibir tersenyum sekilas sembari menjabat tangan-tangan pelayat mengucapkan terima kasih atas belasungkawa. Kemudian, bentuk lekukan itu terbalik hingga menarik genangan air mata di kelopak untuk membasahi kedua pipi. Aku sehat, batinku saja yang tersakiti. Bagaimana mungkin aku bisa hidup lebih tenang dan ceria saat beberapa bunga yang kau sayangi mati? Bagaimana kebahagiaan yang akan dirasakan tanpa ada lagi orang-orang yang terkasih?
Aku tiga bersaudara. Akulah yang bertanggungjawab penuh atas adik-adikku setelah orangtuaku. Kami adalah tiga bunga untuk Ayah dan Ibu. Anggrek, Mawar, Melati itulah nama-nama kami. Kami dirawat dengan penuh kasih sayang oleh bunga matahari kami yaitu Ibu. Kami diajar untuk saling mengasihi satu sama lain. Kini aku percaya bahwa setiap orang akan lebih memilih bunga yang paling cantik untuk dipetik. Bahkan Tuhan pun demikian. Ia memilih bunga-bungaku yang lebih menawan daripadaku untuk ke surga-Nya.
Tiga hari yang lalu aku mendampingi Ibuku yang terbaring sakit dan di sebelahnya ada Melati. Mereka berdua dirawat dalam satu ruangan. Mereka tak berdaya seperti hampir layu namun terus saja berusaha memekarkan senyumnya di depanku.
“Jagalah dia. Biarkan dia terus berkembang agar keindahannya selalu menyenangkan orang lain. Dia akan tumbuh dengan baik walaupun hanya ada kamu di sampingnya. Dia sudah remaja, bahkan dia sudah mau memasuki jenjang SMA. Jagalah adikmu.”
“Ibu, pasti saya akan jaga. Kita akan jaga bersama-sama.”
Saat itu hatiku dikoyak-koyak, seluruh tubuh ini seperti disayat-sayat. Kedua kaki tak kuat menopang bobotku. Pita suara seperti kusuk hingga kurasa aku tak mampu teriak. Air mata terus bercucuran. Bunga matahariku sudah mati. Ibuku meninggal di samping ranjang Anggrek. Ayah langsung menugaskan para perawat untuk memindahkan Anggrek yang masih tertidur lemah ke ruangan lain. Aku tak kuasa melihat bungaku yang kedua kalinya gugur. Kepilauan ini seperti terus mengasa keimananku. Aku bahkan sempat berpikir bahwa Tuhan begitu kejam mengambil orang-orang baik dari sisiku. Aku seperti tidak sangat baik di depan Tuhan hingga mengambil bagian keindahan dari hidupku. Namun, aku selalu mengingat kata-kata Ibu bahwa Tuhan tidak pernah tidak adil kepada setiap hamba-Nya. Aku selalu berusaha berprasangbaik kepada Tuhan dengan menanamkan kepercayaan bahwa bunga yang baiklah yang selalu dipetik terlebih dahulu. Aku tahu Tuhan menyadari bahwa Mawar yang meninggal delapan hari lalu, Ibu sang bunga matahariku diwafatkan tujuh hari yang lalu, dan Melatiku yang terpisah dariku hari ini adalah semua bunga-bunga indah.
Mereka pergi setelah menyelesaikan kewajibannya. Mawar sudah menamatkan sekolahnya, Melati juga sudah menyelesaikan sekolahnya di menengah pertama, dan Ibu sudah cukup mengorbankan dirinya menjaga kita semua hingga tumbuh besar seperti ini. Ibu sudah berhasil membuatku menjadi sarjana dokter muda. Mungkin sudah seharusnya mereka pergi ke kehidupan yang lebih sempurna dan abadi.
Genap sembilan hari, tiga bungaku berhenti mekar. Di depan mataku ada Melati yang terkujur kaku pucat tanpa napas. Balutan kain menutupi tubuhnya yang sangat dingin dan segera dimandikan lalu dikafani. Di sekelilingnya ada sahabat-sahabatnya yang terguncah kesedihan. Mereka juga sangat sedih ditinggalkan oleh sahabat yang begitu baik. Tinggallah aku dan ayah. Ayah kini hanya memiliki satu bunga dalam hidupnya. Ayah yang sangat menyayangi Ibu begitu lemah menahan air mata karena harus berpura-pura tegar. Ayah tidak pernah sekali pun menyakiti Ibu dan selalu saja membuat kita semua bahagia walaupun harus Ayah yang mengorbankan diri. Dapatkah aku menjadi bunga terakhir yang membanggakan Ayah?
Ayah mungkin tidak akan lagi menemukan bunga matahari yang selalu menghangatkan jiwanya ketika lelah bekerja, ayah tidak akan lagi melihat bunga mawar yang senantiasa mengajaknya bercanda dan tertawa dikala beban pekerjaan membuat saraf-sarafnya kaku, dan ayah tidak akan lagi menjumpai melati yang terus menyejukkan hati Ayah di saat emosi tidak stabil. Ayah harus berjuang merawat anggrek yang begitu menyusahkan sepertiku. Ayah akan berjuang seorang diri membuat anggrek dapat berharga.
Waktu terus kulewatkan tanpa ada kegembiraan bersama bunga-bunga kebanggaanku. Aku harus melanjutkan kehidupanku dengan semangat. Aku tidak boleh menyerah hanya karena mereka sudah bahagia di alam yang berbeda. Aku harus bisa membahagiakan bunga-bungaku yang ada di sana. Aku harus membuat ayah senang karena dia berhasil menjadikanku seorang dokter. Aku berjanji bahwa aku harus mampu membebaskan orang-orang dari virus yang mematikan. Aku tidak ingin ada bunga lain yang gugur di saat mereka sudah tumbuh cantik. Aku tidak ingin menyia-nyiakan pengorbanan ibu yang berusaha menyemengatiku saat aku letih menghadapi perkuliahan, aku enggan membuat Mawar dan Melati kecewa jika saja aku tidak menjadi dokter yang handal karena mereka sudah berkorban untuk terus menyisihkan uang jajannya agar membantu biaya praktikum untukku.
Mereka terjangkit virus H5N1. Hasil diagnosisnya baru keluar setelah mereka hidup tenang di alam sana. Sangat lambat untuk diketahui. Seharusnya dokter yang menangani mereka saat itu sudah bisa menebak kemungkinan mereka terjangkit flu sadis itu agar penanganannya lebih maksimal. Aku bersumpah akan terus belajar dan menggali ilmu kedokteranku agar aku selalu mampu menemukan hasil diagnosis dan memutuskan solusi yang tepat bagi setiap orang yang sedang sakit. Aku ingin virus itu tidak ada lagi di dunia ini.

Kemana kampungku?



Kemana kampungku?
Kemana hijau dan sejuknya kampungku?
Kemana?
Aku melihat tidak ada lagi yang serupa dengan yang dulu. Kini jauh berbeda dengan yang dahulu. Terik matahari sudah sangat menusuk, polusi sangat menyesakkan, telinga sudah diusik dengan kebisingan.
Setelah 10 tahun, akhirnya kaki ini menginjakkan kampung halaman, beberapa sudah tiada dan bertambah. Yang kecil sudah besar, yang besar sudah semakin besar bahkan sudah tiada. Sepi. Lagi-lagi batin ini menggerutu perbedaan. Mengapa semuanya tampak beda? Seperti ini bukan tempat yang kukenali.
Saat ini aku duduk di balkon rumah nenek, bukan lagi duduk di belakang rumahnya. Yah, tempat rehat sejenak sudah harus ditempuh dengan tangga. Sekarang yang kulihat adalah rumah-rumah yang sudah menjulang, untung saja masih terlihat landscape pegunungan di sisi kanan. Dahulu jika bersantai di belakang rumah, yang kupandang hanyalah persawahan, sumur, binatang perternakan yang tidak kusukai, dan warga-warga yang asik bercengkeraman. Sedangkan, hari ini semua rumah memiliki tembok besar dan pagar yang membatas. Dulu itu, aku masih bisa melihat dari beberapa celah pembatas apa yang sedang dilakukan para tetangga. Namun, kini tidak ada sama sekali bayangan mengenai apa yang sedang terjadi di sebelah sana.
Rumah ini dulunya hanyalah hunian dengan lantai tanah basah yang padat, atapnya sempat terbuat dari daun pandan kering tapi terakhir kali sudah terbuat dari seng, dulu ada sumur dilengkapi dengan terali gayung yang terikat pada tiang besi di tengah sumur, sangat asik jika sebelum mandi harus menimba beberapa volume air, atau jika ingin mencuci tangan harus memompa air tapi kini sudah tinggal praktis yah kalau mau mandi tidak perlu lagi berjuang ke sumur dan jika ingin membersihkan tangan sudah bisa di westafel. Rumah yang dulunya didominasi dengan taman dan kandang sekarang tersulap menjadi deretan ruko 6 petak. Dulu terasa sangat sejuk tapi kini kegerahan jika tidak menyalakan pendingin ruangan. Dulu kita sangat diwajibkan mengenakan pakaian tebal karena suhu yang sangat dingin tapi kini aku malah berpakaian hampir telanjang dengan balutan baju tanpa lengan dan celana yang sangat pendek.
Di depan rumah yang berlalu-lalang hanyalah beberapa bus dan tidak banyak yang melintas mobil pribadi. Sepeda motor yang biasa lewat masih dapat dihitung berapa banyak. Sayangnya, itu dulu. Kini jika mau kemana-mana semuanya sudah tidak ingin berjalan kaki padahal jaraknya sangat dekat. Kalau mau ke pasar kita tinggal menunggu delman. Sekarang bukan lagi ke pasar tapi ke mall dan tidak ada lagi pak kusir karena ada pak sopir.
Memori bermain-main di sawah, memancing di empang, berlarian di sekitar kebun, semua itu tidak bisa direka ulang. Sawah sudah tinggal beberapa petak, empang sudah jadi tempat pembuangan sampah, kebunnya tinggal satu pohon. Sekarang aku mau berlibur, tapi aku diboyong ke tempat rekreasi air. Wahana waterboom menginjak-injak persawahan hijau kampungku. Sangatlah tidak natural liburan kali ini.
Pukul 7 pagi biasanya masih sangat gelap dengan kabut yang menghalangi jarak pandang satu meter. Sekarang, pukul 7 pagi matahari sudah sangat hangat. Tak ada lagi kabut yang mengaburkan padangan atau yang menyelimuti tubuh dengan hawanya yang sangat dingin. Siapa yang bertanggungjawab atas kerusakan iklim di kampungku? Apakah ini terjadi hanya di kampungku saja? Masih adakah belahan bumi lain yang terjaga dengan alaminya alam?
Ada lagi yang membuatku seperti asing di kampung sendiri, masyarakat kini tak seramah dulu. Dahulu jika kami yang dari kota perantauan kembali ke kampung halaman, keluarga sekampung akan kumpul di rumah nenek. Akan ada makan besar bersama. Sayangnya, itu tinggallah kenangan. Kali ini mereka sibuk dengan urusannya. Semuanya sudah memiliki aktivitas seperti orang kota.
Kemudian, nenek. Dulu masih sehat bugar berjalan ke sawah. Kini berjalan pun harus dipapah. Tidak ada lagi yang bisa menjagaku atau mengajakku berkeliling kampung karena kondisi nenek yang tidak memungkinkan lagi.
Beberapa meter dari rumah ada pabrik yang sudah beroperasi sejak 8 tahun yang lalu. Pabrik tisu dan kertas. Limbah dari pabrik itu menghancurkan pertumbuhan di lahan sawah. Berapa banyak penebangan pohon yang dilakukan hanya untuk beberapa lembar kertas dan tisu? Karena pabrik itu juga yang melenyapkan kesejukan kampungku. Polusi sangat menyesakkan. Kabut berubah menjadi asap yang beracun.
Alamku yang malang, kampungku yang rusak. Mereka dijamah dengan tangan-tangan penguasa. Rakyat kecil berhadapan dengan penderitaan. Kami bahkan lupa bagaimana kabut itu pernah menyelimuti kampung ini. Hijaunya sawah sudah mati atas injakan bangunan pabrik yang jahat mengaliri limba dan menghembuskan asap gelap. Deretan rumah saling bermusuhan dan belomba-lomba menemboki diri. Setiap orang menganggap dirinya untuk siap bersaing.
Aku ingin pulang.
Pulang ke masa lalu.

Mahasiswa Bidikmisi, Mahasiswa Penyandang Dana Darimana?

Sabtu, 18 Maret 2017

Melalui tulisan ini, saya ingin membenarkan suatu hal yang selalu saja menjadi bahan pembicaraan di setiap sudut kampus.
Saya tidak tahu jenis tulisan ini yang jelas ini memuat fakta dan opini dari yang saya temukan dan yang saya kutip.
Tulisan ini ada karena melihat beberapa keluhan teman-teman yang mengeluhkan nominal UKT dengan fasilitas tidak sebanding.
UKT 3 JUTA, 850rb, dapat apa?
* ilmu kaka, iya ilmu.
*Kursi ya kursi, tapi kayu yang kokoh dari tahun 86, 91, 93.
* dapat AC kan? Eh.. Rusak ya? Merk apa? Gak jelas.
Nah, bukan rusak sih, tapi gak terawat tepatnya.
* LCD proyektor, ngantri, padahal sudah bayar mahal untuk kuliah.
Poin ini hanya sebagian yang mengeluhkannya karena yah paling si Keti dan si Seti aja yang ngerasa beban ngantri nenteng LCD, naik turun tangga sampai di kelas eh rusak, eh listrik mati.
Lucunya, kok gak digantung pakai bracket aja yah di tiap kelas?
Gak aman, loh? Bukankah itu sudah ada yang bertanggungjawab atas keamanan kampus? Kan mereka dibayar juga loh.
* apalagi?
Well, berbagai keluhan selalu saja ditemukan di kampus kita.
Saya sangat mengerti keadaan teman-teman yang melihat orangtuanya banting-tulang untuk membayar UKT anaknya. Ada yang 3 juta-850rb.
Hmm, saya mahasiswa bidikmisi.
Di kelas, ada yang bilang sambil bercanda sih “eh.. Ada hakku di uang bidikmisimu nah!”
^shocked^
-----------
Teman-teman,
kami melamar beasiswa bidikmisi jauh sebelum diterima di kampus ini, kami pun tidak mendaftarkan diri begitu saja, kami diseleksi oleh Kepala Sekolah kami, pihak sekolah kami sebelumnya mengamati keadaan ekonomi keluarga kami yang memang layak menerima bantuan.
Pihak Dikti, mensosialisasikan beasiswa ini ke tiap sekolah, mereka menggambarkan dengan sangat jelas bahwa dana yang disiapkan untuk BidikMisi ini adalah seluruhnya uang kelolaan kemenkeu dari pajak masyarakat.

Kami tidak memakan uang kalian yang disetor ke kampus.
Seandainya, uang bidikmisi itu berasal dari UKT kalian, maka pihak kampus hanya memberi kuota minimum kepada pelamar bidikmisi untuk duduk di bangku kuliah, selain itu kami tidak akan mendapat tunjangan hidup yang jumlahnya hampir sama dengan kampus lain secara keseluruhan, waktu pendapatannya juga tidak mungkin sama secara nasional.
Nyatanya, kami tidak mengambil sepeserpun UKT kalian.
Tidak percaya? Gunakan pulsa data kalian googling, tanya ke BAAK!

Kami sebagai awardee diputuskan berhak dibiayai oleh dikti sebelum perkuliahan dimulai. Jadi, kami yang mendapatkan bidikmisi ini bukan dari kampus tapi langsung dari DIKTI. Pihak sekolah kita pun yang membantu. Kami juga masyarakat, kami bayar pajak, setiap makanan yang kami beli sudah dikenai pajak, rumah kami dikenai pajak, semuanya dipajakin. Uang bidikmisi yang kami dapatkan memang hak kami.

kalian membayar kampus, kami juga bayar kak.
Kompensasi dari Dikti itu 6.000.000 per bulan dan pihak kampus yang menerima mahasiswa bidikmisi juga turut berhak memotong uang tersebut sesuai kebutuhan kampus dengan maksimum potongan 2.900.000 *mungkin. Banyak kan say uang nak BM?
setelah resmi duduk di kelas sektor Parangtambung, kami baru tahu bahwa UNM hanya memotong 2.100.000 sehingga tiap semesternya kami digaji *eh 3.900.000.

Ratusan mahasiswa bidikmisi menyetor ke kampus 2,1 setiap semester atau 2x setahun. Yang kami tahu setelah orientasi mahasiswa bidikmisi, uang itu dikelola lagi oleh pihak kampus untuk mengadakan berbagai kegiatan penting untuk mendidik karakter kami, kemudian disisipkan untuk fasilitas kampus.

Lalu, saya kembali mengingat ketika pihak dikti bersosialisasi ke sekolahku, mereka juga mengatakan bahwa uang buku ditanggung, uang transportasi bagi penerima yang tinggal dari daerah akan ditanggung.
Kenyataannya? Tidak ada namanya uang buku. Yup, noproblem. Uang transportasi? Eh tau-taunya malah hanya untuk penerima yang dari luar sulselbar. Sip, oke gapapa.

Teman-teman yang bayar UKT juga ada yang mengeluh, “anak BM ada yang kaya kok! Anak bm ada yang pakai iPhone, anak BM ada yang pakai pakaian branded”
Oh, kalau itu di luar dari pengetahuan saya.
Saya yang sekolah di kota Makassar, benar-benar tidak dibolehkan melamar bidikmisi jika orangtuanya PNS, tapi saya juga heran kok yang dari daerah malah gak selektif gitu ya, yang dari daerah kok bisa jadi penerima bidikmisi tapi mampu?

Nah, ini nih. Walaupun pihak kampus telah melakukan observasi di rumah tiap mahasiswa bidikmisi, mengapa tidak ada LPJ?
Seharusnya pihak kampus tidak hanya mewajibkan mahasiswanya menyetor nilai, tapi juga LPJ. Saya kira tanpa ada bukti pertanggungjawaban menggunakan uang rakyat, sama saja kita itu koruptor.
Bagaimana dengan saya?

Tiap semester saya selalu mencatat pengeluaran saya tapi mau saya laporkan ke mana juga yah?
Saya membeli buku paling sedikit 500.000 tiap semester, saya membiayai keluarga saya, uang transportasi ke kampus ditanggung sendiri, saya juga tak luput berbagi ke kaum yang membutuhkan juga. Uang yang cukup banyak per bulannya bagi kami yang tidak mampu kuliah itu kemudian saya gunakan modal bisnis, selama kuliah berbagai jenis bisnis saya jalankan, mulai dari menjual tiket pesawat, pulsa, kuota data, token, bisnis aplikasi, jualan snack, semuanya saya jalankan dari modal tunjangan dikti. Keuntungan dari itu saya gunakan kembali untuk urusan kampus karena makin menuju semester tua, pengeluaran makin banyak sehingga hidup saya tidak boleh bergantung hanya pada 650.000/bulan. Selain saya, ada yang juga membuka bisnis seperti saya, membiayai kebutuhan orangtuanya, membayar kos sendiri, dll. Intinya, kami menggunakan uang itu juga secara bijak.
Sebagian dari kami berasal dari keluarga yang kurang mampu. Sedangkan, kalian tidak mungkin diberikan jumlah UKT yang harus dibayar jika bapak kalian hanya tukang bengkel. Sebagian dari kalian pula tentunya punya Bapak-Ibu yang bekerja dengan gaji layak, banyak dari kalian itu anak dosen, anak PNS, dsb.

Nah, mengapa masih ada yang mengatakan kalau uang bidikmisi dari UKT kalian?

Ada yang dikatakan penerima UKT Nol, kalian tidak mencaritahu siapa yang membiayainya? Kampus,kan? Uang kampus dari mana? opini saya, teman2 yang membayar UKT secara tidak langsung membiayai penerima UKT Nol.
Beasiswa PPA darimana?
Kok banyak anak dosen dapat beasiswa PPA?
*caritahusendiri*

Stop talking that bullshit.
Kami juga manusia, kami berjuang mati-matian belajar dan kuliah yang benar untuk mempertanggungjawabkan kewajiban kita yang sudah makan uang rakyat (termasuk uang kalian tapi bukan UKT kalian). Sedangkan, sebagian besar dari kalian malah bersantai-santai karena berpikir bahwa kalian sudah bayar kampus. Kalian bisa protes, kita gak boleh karena dikira gak tahu diri. kalian bisa nuntut hak kalian, kami gak bisa. Kalian boleh milih mau kapan lulus, nah kita harus lulus selama 8 semester. Menurut salah satu sumber, bahkan ada mahasiswa bidikmisi yang tidak dibolehkan mengikuti program permata karena dianggap tidak mampu secara finansial di kota orang. Lalu, kalian hanya tahu kami menikmati uang pemerintah dengan begitu mudahnya? Kalian gak tahu kami seperti mengemis duduk diteras bank Mandiri untuk membuka blokiran, padahal kami juga nasabah, yah gapapa deh kami ngantri duduk melantai, tapi hampir selalu perlakuan psikis oleh pihak bank utamanya security bahkan cleaning-service sangat menyakitkan kepada kami, kami selalu dipandang sebelah mata oleh pihak bank jika datang hanya sekadar bertanya “kapan uang bidikmisi cair?”

Melalui tulisan ini, saya hanya ingin mengklarifikasi bahwa kami tidak berbahagia di atas penderitaan UKT kalian, bahkan walaupun kami punya biaya hidup tiap bulan dari dikti tidak berarti hidup kita juga sudah mewah. Saya bahkan masih selalu menahan lapar berhari-hari.

Untuk pihak kampus,
Tegaskan kepada mahasiswa yang katanya tidak mampu tapi membelanjakan uangnya hanya untuk hangout dan nonton di bioskop. Lalu, sempurnakanlah fasilitas di ruang belajar kami. Kami sebagai calon tenaga pendidik tahu persis bahwa siswa tidak boleh belajar di ruangan yang lembab, tapi kita sendiri malah kegerahan belajar dan berdiskusi.

masih banyak yang ingin saya bahas tentang bidikmisi, tapi lelah kaka.

Thanks.

Recehan dalam Kemasan, Belanja tanpa Lembaran

Jumat, 18 November 2016



Kalian sudah pakai ponsel pintar? Nah, bagaimana dengan uang pintar?

Yang namanya masyarakat cerdas tentu bisa memanfaatkan ponsel dan uang pintar, kan?

Kali ini saya memiliki tekad yang besar untuk berbagi pengalaman menggunakan e-money kepada kalian semua yang sebagian besar masih belum tahu atau belum paham mengenai uang elektronik.

Pada era digital zaman sekarang, sudah barang tentu untuk menguasai segala perangkat yang berbasis elektronik. Kemudahan yang ditawarkan itu tidak main-main. Boleh dikatakan segala aktivitas manusia sudah dimanjakan dengan berbagai fitur yang canggih. 

Titik fokus pembahasan saya ini bertolok pada metode pembayaran yang semakin bervariasi. Jika ada pilihan, tentu kita memilih teknik transaksi yang mudah, praktis, dan efisien. 

“Kalau sudah pernah belanja dengan kartu debit atau kredit, bagaimana dengan e-Money?”

Pembayaran dengan uang elektronik atau boleh juga dikatakan recehan yang terkemas elektrik ini berbeda dengan penggunaan kartu debit maupun kartu kredit saat belanja. Perbedaannya terletak pada keefesienannya.

Well, its time to curhat nih.
Ceritanya, beberapa hari yang lalu saya mendapat hadiah dari bank kesayangan (ciee...) maksudnya dari Bank Mandiri. Awalnya, saya sangat ragu dan merasa tidak begitu perlu dengan kartu tersebut. Buat apa sih ini? Benarkah isinya ada uang gitu? Ketika kartu itu sudah berada di genggaman, saya sangat tidak tertarik untuk membaca buku panduannya, langsung saja saya simpan di dompet. Tapi, karena pihak BI sudah melakukan sosialisasi bersama NET TV mengenai manfaat uang elektronik, tanpa pikir panjang saya baca isi buku panduan e-money itu. Rasa penasaran pun memuncak, akhirnya saya berlari kencang sekencang-kencangnya (ah, lebay) menuju Indomaret.
“Selamat siang dan selamat datang di Indomaret.”
“Mba, di sini bisa bayar pakai Mandiri e-Money?”
Karyawan Indomaret itu malah kebingungan.
“Itu apa yah, dek?
“Uang elektronik dari Bank Mandiri, mba.”
“Oh. Ga bisa.”

Membawa perasaan yang kecewa dan malu, saya keluar tanpa membawa kresekan isi belanjaan. Harapan saya untuk mendapat pengalaman pertama memakai e-money hampir saja pupus. Namun, rasa curiga terhadap karyawan itu untung saja ada. Jadi, iseng saja ke Indomaret yang lain, kunjungan kedua pun tidak sia-sia, karyawan super ramah dan cerdas yang melayaniku.
“Boleh, mba. Mandiri e-Money itu sama seperti Indomaret Member Card. Silahkan belanja minimal 20.000.”

Tuh, kan. Bisa, woi! Itu karyawannya aja yang gaptek.
Sebenarnya saya cuma ingin ‘mencoba’, jadi pas disuruh belanja saya malah gak tahu apa yang harus diambil. Kebetulan, ada promosi beli indomie 5bks hanya 9.500 nah langsung saja ambil 5bks ditambah es krim gocengan dan minuman bervitamin gitu. Totalnya sudah melebihi 20.000 tepatnya 20.400. Mba Indomaretnya cuma menempelkan e-Money yang saya bawa ke reader EDC, lalu struknya muncul deh.

Ga ribet, asli ga rempong. Kalau belanja pakai debit card biasanya harus masukkan PIN dan tandatangan pula. Pakai e-money gak serepot itu kok. Selain itu, ada juga nih keuntungan plus dari pembayaran menggunakan e-money yaitu tidak ada lagi kalimat ‘Enam ratus rupiahnya kami donasikan saja ya.’ Uang kembalian pun utuh sesuai dengan jumlah transaksi.

Buat kalian yang masih ragu menggunakan uang elektronik baiknya perasaan takut atau was-was itu dibuang aja deh. Apa sih yang dikhawatirkan? Tidak ada, guys! Biaya kartu perdana pun hanya 20ribu. Tidak ada biaya administrasi per bulan. Kartunya aktif seumur hidup. Batas saldo minimum tidak ada. Bayar tinggal tempelin aja. Keluarin uang logam pun gak perlu malu lagi karena sudah terkemas di dalam chip.

Sepulang dari Indomaret, saya menceritakan pengalaman saya yang tadi ke saudara-saudara dan teman-teman. Alhasil, mereka langsung mau pakai e-Money. Yaiyalah, siapasih yang tidak mau belanja tanpa lembaran nominal?

Setelah merasakan kenikmatan dari Mandiri e-Money, kini saya sudah memberanikan diri pakai T-Cash yaitu uang elektronik yang dimiliki oleh pihak Telkomsel. Pakai T-Cash juga menang banyak deh. Beberapa restoran yang menerapkan pembayaran Tcash sering banget ngasih harga promo. Bayar pas lagi telfonan aja bisa. Seru banget deh. Bukan itu aja, saya bisa beli pulsa melalui Tcash dengan harga yang jauh lebih murah dari kios pulsa yang lain.

Teman-teman yang cerdas itu harus banget dan wajib mendukung gerakan nasional non-tunai. Semua keunggulannya memihak banget. Kalian masih betah menerima uang dari tangan-tangan yang belum tentu sehat? Percuma uang banyak dalam genggaman kalau ditambahin kuman. Dewasa ini juga banyak banget kejadian kriminal yang mengintai, cari aman saja, jangan bawa lembaran uang yang tebal deh. Kemasin aja dalam kartu.

Saya sangat mengapresiasi kinerja Bank Indonesia yang telah memperkenalkan Pembayaran Non-Tunai kepada masyarakat, orang-orang yang sebelumnya belum pernah pegang kartu ATM, kini sudah berani belanja pakai uang elektronik. Saudara-saudara kita yang memiliki keterbatasan dalam melihat juga sangat dibantu dengan adanya e-Money ini, mereka tidak perlu lagi mengambil waktu untuk meraba lembar uang saat belanja, mereka tinggal ngasih kartu, dan tidak menunggu lama lagi hanya untuk uang kembalian.

Kalian masih bengong? Aduh, cepat buat uang elektronik!
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS