Pages

Menulis Kreatif : Penulisan Kreatif Puisi

Selasa, 19 September 2017



A.    Pengertian Puisi
Secara etimologis, kata ‘puisi’ dalam bahasa Yunani berasal dari poesis yang artinya ‘penciptaan’. Herman Waluyo (2005) berpandangan bahwa puisi berupa karya sastra tertulis yang paling awal ditulis oleh manusia. Ia juga mendefinisikan puisi sebagai karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata kiasan. Menurut Dresden (dalam Sayuti, 2000:237) menyatakan bahwa puisi adalah sebuah dunia dalam kata. Sedangkan, Pradopo (2007) berpendapat bahwa puisi adalah rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, diubah dalam wujud yang paling berkesan. Ada beberapa penyair Inggris yang mengemukakan definisi puisi yang dikumpulkan oleh Shanon Ahmad (dalam Pradopo, 2007:6) yakni sebagai berikut.
1.    Samuel Taylor Coleridge mengemukakan bahwa puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah.
2.    Carly mengatakan bahwa puisi merupakan pemikiran yang bersifat musikal karena bunyinya merdu.
3.    Wordsworth mempunyai gagasan bahwa puisi adalah pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan.
4.    Dunton berpendapat bahwa sebenarnya puisi itu merupakan pemikiran manusia secara konkret dan artistik dalam bahasa emosional serta berirama.
Mengacu pada definisi-definisi di atas terlihat bahwa ada perbedaan antara pendapat para penyair, namun masih terdapat benang merah atau kesamaan. Shannon Ahmad (dalam Pradopo, 2007:7) menyimpulkan bahwa puisi itu terdapat garis-garis besar yang berupa emosi, imajinasi, pemikiran, ide, nada, irama, kesan pancaindera, susunan kata, kata kiasan, kepadatan, dan perasaan. Jadi, dapat pula disimpulkan bahwa puisi itu merupakan bentuk atau tulisan yang tersusun indah yang berisi pemikiran seseorang dan perasaan. Menulis puisi adalah proses menyalurkan perasaan dan hasil pengalaman melalui bentuk atau susunan kata yang indah dengan melibatkan berbagai unsur seperti gaya bahasa.
Dari segi waktu, puisi itu terbagi atas dua yakni puisi lama dan puisi baru. Puisi lama adalah puisi yang lahir sebelum masa penjajahan Belanda, sehingga belum tampak adanya pengaruh dari kebudayaan barat. Puisi lama cenderung tidak diketahui nama pengarangnya karena bentuk penyampaiannya dari mulut ke mulut atau secara lisan, dan sangat terikat dengan aturan termasuk penentuan jumlah baris dan suku kata. Yang termasuk dalam puisi lama yaitu: (1) Mantra adalah ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib; (2) pantun adalah puisi yang bercirikan saja ab-ab, dsb.; (3) Karmina adalah pantun kilat; (4) Seloka adalah pantun berkait; (5) gurindam adalah puisi yang berisi nasihat; (6) syair adalah puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris bersajak a-a-a-a; dan (7) talibun adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6-10 baris. Sedangkan, puisi baru bentuknya lebih bebas baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima. Ciri-cirinya adalah memiliki bentuk yang rapi, persajakan akhir yang teratur, menggunakan pola sajak syair, setiap baris memiliki kesatuan sintaksis. Balada, himne, romansa, ode, epigram, elegi, satire, merupakan bagian dari jenis puisi baru.

B.     Struktur Puisi
1.      Struktur Fisik
a.       Perwajahan atau Tipografi, adalah bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik.
b.      Diksi, adalah seleksi kata-kata untuk mengekspresikan ide atau gagasan dan perasaan (Ahmadi, 1988:126). Diksi juga berarti penataan, penyusunan, dan pemilahan kata-kata ke dalam susunan tertentu yang secara efektif dapat mengungkapkan ide, gagasan, dan perasaan.
c.       Imaji, merupakan reproduksi dalam pikiran mengenai perasaan yang dihasilkan oleh persepsi yang bersifat fisik, mistis, dan psikis. Fungsi imaji di dalam puisi ialah menggugah perasaan, pikiran, dan kesan mental pembaca puisi.
d.      Kata Konkret, adalah kata yang memungkinkan memunculkan imaji karena dapat ditangkap indera yang mana kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang.
e.       Gaya Bahasa, adalah penggunaan bahasa dengan menghidupkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu dengan figuratif yang menybabkan puisi memancarkan banyak makna.
f.       Rima, ialah persamaan bunyi puisi di baik awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rima mencakup tiruan bnyi yang memberikan efek magis, bentuk intern pola bunyi seperti aliterasi dan asonansi.
2.      Struktur Batin
a.       Makna, puisi harus memiliki makna di tiap kata, baris, bait, dan secara keseluruhan.
b.      Rasa, sikap penyair mengenai pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan rasa erat kaitannya akan latar belakang sosial dan psikologi penyair.
c.       Nada, sikap penyair terdapat pembacanya. Penyair dapat menyampaikan tema baik dengan nada yang menggurui bahkan bekerja sama dengan pembaca dalam pemecahan masalah atau menyerahkan masalah kepada pembaca.
d.      Amanat, adalah pesan yang disampaikan di dalam puisi kepada pembaca.

C.    Kualitas Puisi
Menghasilkan atau menulis sebuah puisi haruslah memiliki nilai atau kualitas yang baik agar dapat diapresiasi dengan baik pula oleh pembaca. Ada 10 konsep puisi yang berkualitas yakni sebagai berikut.
1.      Sebuah puisi dapat dikatakan berkualitas apabila merupakan usaha merekam isi jiwa penyairnya. Jika penyair merasa telah sanggup merekam isi jiwaya ke dalam bahasa puisi, dapat diharapkan puisi itu memenuhi konsep puisi berkualitas.
2.      Puisi berkualitas adalah puisi yang komunikatif. Bentuk rekaman kejiwaan itu haruslah komunikatif. Puisi yang komunikatif juga ada yang tidak berkualitas, dengan begitu pengertian komunikatif ini hendaklah diproyeksikan pada bentuk yang interaktif dan dialektif, pesan yang disampaikan harus mudah ditangkap.
3.      Puisi yang berkualitas menunjukkan adanya keteraturan. Keteraturan puisi bergantung sistem puisi, kode bahasa, pengemasan pesan, penggunaan piranti keindahan bahasa dan kedalaman makna pesan.
4.      Setiap puisi yang berkualitas menunjukkan adanya integrasi semua unsur, aspek, komposisi, dan komponen pembentuk puisi.
5.      Sebuah puisi berkualitas menunjukkan adanya penemuan. Penemuan di sini terkait dengan estetika, pola ucap, teknik pemaparan, dan pengemasan pesan yang memesona.
6.      Puisi yang berkualitas menunjukkan ekspresi penyairnya.
7.      Puisi yang berkualitas selalu pekat, kental, kenyal, lentur, luwes, dan dinamis.
8.      Puisi yang berkualitas selalu berisi penafsiran kehidupan.
9.      Puisi berkualitas menunjukkan adanya pembaruan, baik dalam tataran ide, kemasan, bahasa, dan ekspresinya.
10.  Puisi yang berkualitas mampu memberikan penghiburan spritiual, batiniah, rasa senang, puas, mempesona, dan mungkin dapat membius pembacanya.

D.    Penulisan Kreatif Puisi
Dalam penulisan puisi setiap individu tentunya harus melewati serangkaian proses kreatif dengan gaya tersendiri. Secara umum proses kreatif yang dilalui semua orang hampir sama yang biasanya terdiri atas empat tahap yaitu sebagai berikut.
1.      Pencarian Ide
Bahan pertama dalam menulis puisi adalah ide atau inspirasi, yaitu sesuatu yang menyentuh rasa atau jiwa yang membuat seseorang ingin mengabadikan dan mengekspresikannya dalam puisi. Ide berupa pengalaman yaitu segala kejadian yang ditangkap panca-indera kita, yang kemudian menimbulkan efek, lalu dituliskan dalam bentuk puisi.
Proses pencarian inspirasi itu haruslah bersifat aktif-kreatif, bukan pasif yaitu menunggu inspirasi datang. Inspirasi atau ide seharusnya dipanggil, dicari, dan diburu dengan cara membuat panca-indera lebih sensitif dalam memaknai setiap kejadian yang dijumpai.
2.      Perenungan
Jika ide itu sudah didapat, maka renungkanlah. Biasanya proses perenungan ini lama karena berkaitan dengan cara yang akan dilakukan agar ide itu menarik. Dalam pengembangan ide yang harus direnungkan utamanya adalah kata-kata karena kunci utama puisi adalah pada konsentrasi kata, sehingga aspek utama merenungkan ide adalah pemilihan diksi.
3.      Penulisan
Selanjutnya adalah penulisan. Tulislah apa yang sudah ingin ditulis dengan segera tanpa ditunda-tunda, jangan berhenti kalau memang benar-benar buntu. Prinsip menulisnya adalah ungkapan segala hal yang sudah ada dalam otak tentang ide yang sudah didapatkan. Dalam penulisan ini, persoalan yang sering muncul adalah buntu. Jika hal itu terjadi, jangan memaksakan agar tulisan selesai karena puisi yang baik dilihat dari proses.
4.      Editing dan Revisi
Editing berkaitan dengan pembetulan pada puisi yang diciptakan pada aspek bahasa, baik salah ketik, pergantian kata, sampai kalimat, bahkan tata tulis. Sedangkan, revisi berkaitan dengan penggantian isi. Editing dan revisi menjadi syarat mutlak untuk bisa menghasilkan karya puisi yang bagus. Editing dan revisi merupakan bagian dari keharusan proses menulis yang selain bertujuan untuk membuat puisi menjadi lebih baik, juga untuk menunjukkan sikap apresiasi terhadap karya sendiri.
Proses penulisan kreatif pada karya sastra puisi dapat ditempuh dengan beberapa metode yang dikutip dari situs halaman berbagi tips wikihow. Adapun metode tersebut adalah.
1.      Bersikap Kreatif
a.       Gali percikan di diri Anda
Sebuah puisi dapat berawal dari secuplik bait, mungkin hanya sebaris dua baris yang tampaknya muncul dari antah-berantah, dan sisanya perlu ditulis mengitarinya. Berikut beberapa cara untuk menciptakan percikan.
1)      Kumpulkan minimal 10 puisi secara acak. Kemudian, pilihlah secara acak baris dari tiap puisi, cobalah fokus hanya pada baris pertama. Tulislah semua baris itu di kertas yang berbeda, dan cobalah menyusunnya menjadi puisi yang utuh. Dengan begitu, akan memberi Anda ide.
2)      Tulislah seluruh kata dan frasa yang muncul di kepala saat memikirkan sebuah ide.
3)      Suarakan perasaan Anda yang sebenarnya ke dalam baris-baris puisi.
4)      Masuklah ke dalam adegan khusus yang ingin Anda tulis. Contoh, jika ingin menulis tentang alam, maka cobalah mengunjungi taman atau hutan kecil.
b.      Bacalah dan dengarkan puisi
Dapatkan inspirasi dengan mencari karya penyair yang dikagumi. Jelajahi rentang karya yang luas. Semakin banyak interaksi dengan puisi, estetika Anda akan semakin terbentuk.
1)      Datangi acara-acara pembacaan puisi.
2)      Carilah lirik lagu lalu bacalah seperti membaca larik puisi.
c.       Pikirkan tentang apa yang ingin Anda capai dengan puisi yang ditulis.
Kita harus menetapkan tujuan ditulisnya puisi tersebut yang bisa saja untuk kekasih, untuk mengingat kejadian tragis, atau hanya sekadar mendapat nilai A dari dosen. Pikirkanlah target pembaca.
d.      Putuskan gaya puisi apa yang cocok untuk kepribadian Anda
Sebagai penyair, Anda perlu memiliki beragam bentuk puisi untuk dipilih.
2.      Biarkan Kreativitas Mengalir
a.       Pilihlah kata-kata yang tepat
Kata orang jika novel itu merupakan kata-kata dalam susunan terbaik, maka puisi adalah kata-kata terbaik dalam susunan yang terbaik.
1)      Bayangkan kata-kata yang digunakan itu sebagai balok-balok mainan dengan bentuk dan ukuran yang berbeda. Maksudnya, ada kata yang akan sempurna jika digabungkan, ada juga yang tidak. Maka, perbaikan harus selalu dibutuhkan.
2)      Gunakan hanya kata-kata yang perlu saja.
b.      Gunakan gambar konkrit dan deskrpsi yang jelas
Hal yang perlu dipertimbangkan saat membangun deskrpsi, adalah:
1)      Cinta, kebencian, kebahagiaan merupakan konsep yang abstrak. Banyak puisi yang jauh di lubuk hati berbicara tentang emosi. Kunci untuk menggunakan hal abstraksi yang menarik adalah dengan menambah keindahan abstraksi melalui gambaran yang konkrit. Konsep korelatif-objektif sangat berguna untuk menggambarkan perasaan melalui objek-objek.
2)      Tunjukkan pada pembaca apa yang Anda bicarakan, bantulah mereka merasakan pencitraan dalam puisi Anda. Masukanlah alat bantu sensoris karena puisi tidak hanya kuat dalam penggunaan imaji tapi juga dengan gambaran yang jelas.
3)      Berilah contoh lebih dari sekadar deskripsi intelektual. Contoh, “Ia mengeluarkan bunyi seperti kuda nil yang sedang makan 100 pai pecan basi dengan gigi besi” kalimat tersebut lebih baik daripada hanya sekadar “Ia mengeluarkan bunyi keras”.
c.       Gunakan perangkat puisi untuk menambah kecantikan dan makna puisi.
Perangkat puisi yang paling dikenal adalah rima. Rima dapat menambah ketegangan pada baris-baris puisi atau membuat puisi Anda lebih kohesif. Namun, jangan menggunakan rima secara berlebihan.
3.      Membawa Puisi Menjadi Hidup
a.       Dengarkan puisi Anda
Meskipun banyak orang kini membaca puisi dalam bentuk tulisan, puisi umumnya merupakan seni mendengar. Saat Anda menulis dan menyuntung puisi, bacalah dengan keras dan dengarkan bunyinya.
b.      Sunting puisi Anda
Jika puisi dasar sudah ditulis, kesampingkan sejenak dan kemudian baca puisi tersebut keras-keras pada diri sendiri. Perhatikan pilihan kata dan ritme. Hilangkan kata-kata yang tidakk diperlukan. Jangan takut untuk terus menulis ulang jika sebagian puisi tidak sesuai.
c.       Bagilah karya Anda dengan orang lain
Mintalah pendapat atau kritik dari orang lain. Anda perlu mendapatkan pencerahan agar membuat puisi menjadi lebih baik melalui saran atau kritik dari teman-teman sebagai pembaca. Saringlah berbagai kritikan untuk membantu pengembangan karya menjadi lebih bermutu.
Selain itu, ada pula metode yang menarik dalam menulis puisi, yaitu metode akrostik. Semua baris dalam puisi menceritakan topik kata yang penting. Puisi akrostik ini merupakan bentuk pengejaan sebuah kata atau kalimat secara vertikal. Contoh:
Waktu terus merangkak cepat
Iringan dentum jam dinding menggelinding
Detik berdendang tanpa jeda
Andai saja waktu ingin tahu inginku...
Tata cara menulis puisi yang paling sering dibocorkan oleh penulis-penulis terkenal yang dikutip dari laman rahasiapenulis.com adalah sebagai berikut.
1.      Ide. Ide merupakan ruh dalam dunia kepenulisan, termasuk puisi. Kita harus peka dan menggali informasi sebanyak-banyaknya dan dari mana saja untuk mendapat ide.
2.      Filterisasi. Menyaring segenap ide yang didapatkan lalu menentukan ide mana yang layak dituangkan dalam bentuk puisi.
3.      Memasukkan imajinasi. Imajinasi yang baik akan menghasilkan puisi yang baik pula. Imajinasi identik dengan pencitraan alat indera.
4.      Tema yang tepat. Laksana ide, tema juga merupakan ruh dalam menulis puisi. Maka, menentukan tema yang tepat sebelum menulis puisi adalah hal yang mutlak.
5.      Buat judul yang menarik. Tidak bisa dipungkiri bila judul sangat memengaruhi minat baca. Semakin menarik judul, maka minat pembaca untuk membaca karya (puisi) kita semakin besar.
6.      Menggunakan kata-kata indah. Hakikatnya puisi adalah rangkaian kata-kata yang indah. Maka, menulis puisi harus menggunakan kata-kata yang indah. Caranya? Perbanyak membaca, perbanyak kosakata. Dan yang paling penting, perbanyak berlatih.
7.      Buat lirik yang menarik. Bila sekilas memandang, puisi hampir mirip dengan syair. Lirik yang menarik akan menghasilkan suasana puisi yang menenangkan hati.
8.      Perwajahan atau topografi. Perwajahan dalam puisi tidak berbentuk paragraf, seperti prosa. Perwajahan dalam puisi berbentuk bait. Yang mana bait-bait itu mengandung makna dari penulisnya sendiri.
9.      Gunakan majas. Sangat penting bagi kita untuk pandai-pandai menggunakan majas dalam menulis puisi. Penggunaan majas akan lebih memperindah puisi kita.



DAFTAR PUSTAKA

Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Sayuti, Suminto A. 2000. Berkenalan dengan Puisi. Yogyakarta: Pustaka Jaya.
Waluyo, Herman. 2005. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.
Pustaka Online dari Situs Halaman:
Jendelasastra.com (diakses pada tanggal 9 April 2017)
Rahasiapenulis.com (diakses pada tanggal 12 April 2017)
Wikihow.com (diakses pada tanggal 9 April 2017)

Kesantunan Berbahasa Sang Panglima Jenderal TNI di Rosi Talkshow


Berikut deskripsi penggunaan dan pelanggaran prinsip kesantunan berbahasa dalam interaksi politik antara Panglima TNI dan Rosi Silalahi di talkshow ROSI Kompas TV.
A.    Maksim Kebijaksanaan
1.      “... Kalau saya menanggapi kelompok-kolompok naif itu, maka saya juga bodoh. Itu seperti kalau kita berkelahi dengan orang gila maka kita juga bisa gila...”
Penjelasan :
Bentuk tuturan pertama di atas menunjukkan adanya pelanggaran terhadap maksim kebijaksanaan karena informasi yang dinyatakan oleh penutur dianggap merugikan orang lain. Walaupun penutur tidak mengucapkan nama kelompok yang naif, tetapi pendengar bisa memahami bahwa yang dimaksud adalah jurnalis Amerika (Allan Nairn) dan media tirto.co.id yang memuat tulisan tentang makar itu.
2.      “Saya tidak membahas ini karena kalau kita lihat masyarakat (Jakarta khususnya) bisa mengetahui kok apa yang terjadi enam bulan terakhir mulai dari 411. Pertama, masyarakat bisa mengetahui apa yang terjadi selama enam bulan terakhir. Kedua, kalau toh saya akan makar, sejak reformasi  1998 sampai dengan saat ini syukur Alhamdulillah Institusi TNI tidak pernah tidak netral.”
Penjelasan :
Tuturan di atas merupakan jawaban atas pertanyaan mengenai bagaimana seharusnya Panglima memberi penjelasan kalau beredar isu bahwa narasumber dari tulisan opini Allan Nairn tidak lain dari lingkaran terdekat Panglima TNI. Dengan bijak, penutur memberikan jawaban yang menguntungkan orang lain. Dari tuturan tersebut menunjukkan bahwa penutur sudah yakin kalau masyarakat tahu persis kondisi Indonesia (Jakarta) selama enam bulan atau sejak adanya aksi bela Islam, lalu dia juga memberi penegasan bahwa jika saja ia makar, maka tidak mungkin sejak reformasi 1998 hingga sekarang institusi TMI selalu netral. Jadi, informasi yang diberikan penutur tidak memberikan efek merugikan kepada orang lain dan memaksimalkan keuntungan kepada masyarakat dan institusi TNI yang masing-masing tentunya paham bahwa orang-orang di sekitarnya tidak mungkin menjadi mata-mata untuk Allan Nairn dalam membuat berita dugaan makar.
3.      “Apapun itu kalau saya anggap gila maka tidak akan saya tanggapi.”
Penjelasan :
Ada indikasi pelanggaran maksim kebijaksanaan dari tuturan tersebut. Karena pernyataan tersebut merupakan jawaban dari ‘kalau menanggapi tulisan wartawan Amerika?’ Penutur menganggap bahwa apapun itu termasuk tulisan Allan Nairn dianggapnya juga gila jadi tidak akan menanggapi isi tulisan jurnalis senior itu. Nah, dari pernyataan tersebut khususnya dari kata ‘gila’ penutur menyudutkan orang lain dengan memberikan ungkapan yang bisa merugikan Allan Nairn.
4.      “Jangan mau ditakuti.”
Penjelasan :
Tuturan tersebut hadir sebagai jawaban dari permintaan saran Panglima oleh pembawa acara mengenai cara tentara turut menjaga keamanan negara dan jawaban tersebut adalah jawaban yang memenuhi maksim kebijaksanaan karena itu berupa saran atau tawaran yang dapat menguntungkan orang lain atau seluruh tentara di Indonesia agar jangan mudah ditakuti oleh berbagai ancaman yang ingin menggoyahkan keamanan Indonesia.

B.     Maksim Kedermawanan
1.      “Peci putih itu komunikasi bahwa saya sama dengan aksi agar saya bisa menenangkan para aksi dan bisa mengendalikan (jika terjadi pemberontakan).”
Penjelasan :
Tuturan di atas menunjukkan bahwa penutur berupaya memposisikan dirinya seperti pendemo yang diidentik warna putih ketika aksi itu, sehingga dia bisa menyatu bersama para demo untuk mengendalikan suasana jika terjadi ketegangan. Tuturan tersebut dinilai memenuhi maksim kedermawanan karena penutur menyiratkan kerugian diri sendiri jika saja terjadi kerusuhan.
2.      “Jadi, apapun yang saya lakukan tidak masalah yang penting tujuan berhasil walaupun beresiko.”
Penjelasan :
Dengan mengatakan bahwa Panglima akan lebih mengutakan tujuan utamanya sebagai prajurit dan rela mengambil resiko demi mengamankan Presiden, maka tuturan tersebut menggunakan maksim kedermawanan karena berdasarkan apa yang dituturkan Panglima TNI telah memberi isyarat bahwa ia rela meminimalkan keuntungan dirinya dan rela bertindak untuk membantu orang lain yaitu Presiden.

C.    Maksim Penghargaan
1.      “Tapi, mungkin kelompok-kelompok (jurnalis Amerika) itu lupa bahwa sekarang kita sudah sangat maju. Banyak perusahaan-perusahaan Indonesia mempekerjakan bule-bule di sini.”
Penjelasan :
Sebelum penutur menguraikan kalimat di atas, dia memberikan gambaran mengenai masyarakat Indonesia yang saat dijajah selalu menganggap apa yang dikatakan orang bule itu benar semuanya. Kemudian, dari tuturan di atas menunjukkan bahwa penutur memberikan pujian terhadap Indonesia yang sudah terlihat maju karena sudah mampu mempekerjakan bule-bule.
2.      “Kan kita sudah mengamati sejak awal siapa itu Allan Nairn. Jadi, kalau tidak begitu atau kita tanggapi maka kita termasuk kelompok-kelompok Allan Nairn.”
Penjelasan :
Dari tuturan di atas, secara tersirat dapat disadari bahwa penutur melanggar maksim penghargaan karena pernyataan di atas menjawab pertanyaan mengapa reaksi TNI cepat menganggap berita yang ditulis jurnalis Amerika itu sebagai berita bohong. Lalu, penutur menegaskan bahwa dia sudah mengamati sejak awal siapa itu Allan Nair (Jurnalis Amerika) yang secara tersirat bermakna negatif mengenai sosok Allan. Lalu, penutur juga mengulangi bahwa ia tidak ingin menanggapi karena tidak mau termasuk kelompok dari Allan Nairn. Dengan demikian, rasa tidak ingin yang diungkapkan penutur seperti mengejek bahwa orang-orang yang percaya opini Allan Nairn itu tidak baik. Jadi, ada indikasi mengejek dan merendahkan yang bertentangan dengan maksim penghargaan.
3.      “Makanya, saya katakan tadi bahwa masyarakat Indonesia sudah cerdas.”
Penjelasan :
Penutur terus mengungkapkan bahwa masyarakat tidak akan mudah percaya dengan isu makar. Terkait dengan perkataannya bahwa kita tidak hidup lagi di zaman penjajahan, penutur kemudian memuji bahwa masyarajat sudah cerdas untuk menjawab pertanyaan pembawa acara mengenai pelaporan ke dewan pers. Maksud penutur memuji seperti itu karena ingin memberi penegasan bahwa tidak perlu dibawa ke meja hukum karena masyarakat sudah cerdas menentukan mana kabar bohong atau benar.
4.      “Kalau institusi TNI main-main, tidak mungkin saat ini institusi TNI adalah institusi yang terpercaya oleh masyarakat Indonesia. Dan justru Presiden Jokowi yang mengatakan hasil survei ini dan meminta saya untuk mempertahankan.”
Penjelasan :
Tuturan tersebut adalah jawaban lanjutan dari pertanyaan Rosi yang mengatakan bagaimana cara Panglima menanggapi bahwa ternyata Allan Nairn memeroleh informasi tentang makar dari orang-orang terdekat Panglima. Penutur justru mengisyaratkan kesantunan berbahasanya melalui maksim penghargaan kepada institusi TNI yang menurutnya tidak mungkin main-main karena TNI adalah institusi yang terpercaya oleh masyarakat. Jadi, jawaban dengan memberikan pujian kepada institusinya itu memberi pemahaman kepada pembawa acara bahwa panglima yakin tidak ada orang-orang TNI yang bekerja sama dengan Allan Nairn untuk memfitnah dirinya.
5.      “...tidak ada media di Indonesia yang terpercaya memuat itu.”
Penjelasan :
Dari bentuk-bentuk tuturan sebelumnya, penutur selalu mengatakan bahwa media-media atau beberapa orang/kelompok yang menanggapi tulisan Allan Nairn itu seperti orang yang hidup di jaman penjajahan dan ‘agak gila’. Namun, pada tuturan kali ini penutur memberikan apresiasi dan pujan terhadap media-media Indonesia yang terverifikasi dan terpercaya (Kompas TV, Majalah Tempo, situs republika.com, dsb.) yang justru tidak memuat tulisan tersebut. Sehingga, melalui maksim penghargaan kepada media Indonesia yang terpercaya membuat pembawa acara mengerti kalau Panglima tidak perlu menyampaikan tulisan Allan Nairn ke dewan pers karena yang mengedarkan tulisan itu adalah media yang belum terverifikasi di Indonesia.
6.      “Saya mengamati siapa pemimpin saya. Maaf kalau saya salah, kalau beliau tersinggung (mengenai peci). Beliau adalah orang berani dan nekat. Ketika dilarang justru berangkat untuk sholat jumat (pada saat aksi)...”
Penjelasan :
Penutur memberikan penghargaan kepada pemimpinnya dengan memuji bahwa Presiden Jokowi itu berani karena tidak takut dengan para aksi yang bisa saja melakukan pemberontakan saat Jokowi berada di lapangan. Penutur juga mengucapkan ‘maaf’ kalau saja Presiden merasa tersinggung mengenai warna peci yang mengundang ribuan persepsi. Dari tuturan tersebut, penutur sangat menunjukkan adanya rasa kekaguman kepada Presiden yang dianggapnya panglima tertingginya yang sudah nekat melaksanakan sholat jumat di Monas bersama para pendemo.
7.      “Di dalam doktrin militer yang jadi utama adalah asas tujuan. Tujuan saya adalah mengamankan Presiden.”
Penjelasan :
Penutur menunjukkan maksim penghargaan karena dari tuturan di atas yang berisi bahwa tujuan militernya adalah mengamankan Presiden yang artinya ada bentuk penghormatan yang tinggi kepada Presiden.
8.      “Yang bisa mengontrol saya hanya Presiden karena itu tanggung-jawab saya sama Presiden.”
Penjelasan :
Menunjukkan rasa hormat dan penuh tanggung-jawab kepada Presiden melalui tuturan tersebut, penutur dianggap telah mengaplikasikan maksim penghargaan.
9.      “Cukup pemimpin saya yang melihat saya karena dia yang mengangkat saya dan mencopot saya.”
Penjelasan :
Penutur terus menunjukkan rasa hormatnya kepada Presiden sebagai atasannya yang telah melantik dirinya sebagai Panglima TNI. Berdasarkan tuturan tersebut, penutur memenuhi maksim penghargaan yang menunjukkan adanya rasa kekaguman dan menghormati sang Presiden yang berhak menilai kinerja atau loyalitasnya.
10.  “Mereka yang ikut aksi menyampaikan aspirasi dengan tertib. Jadi tidak ada yang mengganggu.”
Penjelasan :
Melalui tuturan di atas, penutur memberikan penghargaan yang tulus kepada para aksi karena menyampaikan aspirsinya dengan tertib dan tidak menimbulkan pemberontakan.
11.  “Yang melakukan aksi juga warga yang cinta negaranya. Jadi, tidak mungkin melakukan kerusakan.”
Penjelasan :
Penutur menggunakan maksim penghargaan untuk memberi pujian kepada para demonstran yang nasionalisme yang diyakininya bahwa tidak akan melakukan kerusakan.

D.    Maksim Kesederhanaan
1.      “Saya takut justru saya akan dianggap gila.”
Penjelasan :
Menjawab pertanyaan pembawa acara bahwa apakah benar pak Gatot tidak perlu menanggapi Allan Nairn? Jawaban yang diberikan penutur menunjukkan kelemahan diri sendiri bahwa ada rasa takut kalau menanggapi Allan Nairn malah akan membuat dirinya dianggap gila. Seandainya jika tuturan di atas tidak tergolong maksim kesederhanaan, maka penutur tidak perlu mengatakan ‘saya takut’ karena makna dari frasa itu menunjukkan sikap rendah diri seorang Panglima yang sebenarnya dikenal tidak pernah takut kecuali dengan Tuhan dan Presiden. Kemudian dari kalimat “saya takut justru saya akan dianggap gila” memperlihatkan usaha Gatot yang mengecam dirinya sendiri secara tidak langsung.
2.      “...Jadi kedua-duanya bukan masalah TNI kalaupun TNI ikut di situ. Itu karena TNI membantu kepolisian. Turut mengamankan dan itu pun dilakukan TNI atas permintaan Kapolri.”
Penjelasan :
Dari tuturan di atas, penutur tidak menunjukkan kemampuan diri sendiri. Ia menganggap bahwa terlibatnya TNI dalam pengamanan aksi bela Islam berjilid itu tidak lain karena permintaan Kapolri. Pernyataannya seperti ia menganggap bahwa TNI hanyalah bawahan dari Kapolri dalam pengamanan aksi bela Islam.
3.      “Yang bisa mengontrol saya hanya Presiden.”
Penjelasan :
Menganggap bahwa ia bisa dikontrol oleh Presiden menunjukkan adanya sikap keserderhanaan dari tuturannya yang menganggap bahwa dirinya lemah di bawah Presiden.
4.      “Saya dilantik dengan Presiden sebagai panglima TNI. Setiap prajurit disumpah untuk taat pada aturan. Saya tidak mau jadi presiden.”
Penjelasan :
Ketika ditanya oleh pembawa acara apakah Pak Gatot ingin menjadi Presiden, sontak penutur menunjukkan sikap yang rendah diri yang menyiratkan bahwa ia tidak pantas menjadi Presiden. Atas sumpah prajuritnya, ia harus taat pada aturan dan tidak mau jadi Presiden.

E.     Maksim Pemufakatan
1.      “Orang bisa percaya bahwa itu benar kalau kita hidup di zaman dulu ketika baru saja   merdeka. Dulu kalau yang namanya kita bekas dijajah melihat orang bule itu (orang kampung saya bilang tuan-tuan Belanda) semua yang dibicarakan tuan-tuan itu dianggap benar semuanya.....”
“....Jadi, kalau saya tanggapi hal semacam itu saya seperti hidup pada jaman baru merdeka...”
Penjelasan :
Tuturan di atas merupakan jawaban pertama dari penutur setelah menerima pertanyaan pembawa acara terkait mengapa Panglima TNI menganggap berita dugaan makar yang menyeret namanya adalah isu kecil dan tidak perlu ditanggapi. Pernyataan ini menunjukkan adanya maksim pemufakatan tetapi bukan berbentuk persetujuan. Panglima TNI ini tidak setuju terhadap pendapat pembawa acara yang mengatakan bahwa publik bisa saja percaya terhadap isu makar itu meskipun Pak Gatot menganggap itu isu kecil. Penutur pun menyertakan alasan yang santun dalam mengemukakan ketidaksetujuannya terhadap pendapat pembawa acara. Alasannya pun sangat logis dan mudah diterima sebagai rasa tidak setuju penutur.
2.      “Tidak ada perubahan. Saya tidak pernah mengatakan akan ajukan ke hukum karena itu yang diharapkan sama dia. Jika diproses hukum, dia akan membesar dan saya yang mengecil.”
Penjelasan :
Tuturan ini juga termasuk maksim pemufakatan, walaupun ada ketidaksepakatan terhadap pernyataan pembawa acara yang mengira bahwa Panglima TNI sebelumnya ingin melapor ke polisi lalu ke dewan pers, namun pernyataan tidak setujunya tergolong santun dengan mengutarakan alasannya yang jelas. Penutur menyatakan tidak setuju bahwa ada perubahan karena kenyataannya penutur yakni panglima TNI tidak pernah ingin mengajukan isu itu ke ranah hukum karena akibatnya akan lebih berdampak kepada si jurnalis Amerika itu yang mampu membuat panglima TNI terlihat kecil atau kalah.
3.      “Bukan diselesaikan di dewan pers...”
Penjelasan :
Melanggar maksim pemufakatan karena tuturan di atas menjawab pertanyaan pembawa acara yakni apakah pak Gatot menganggap isu ini bisa diselesaikan ke dewan pers. Lalu, penutur menyanggahnya dengan sikap tidak setuju dan tidak mengutarakan alasannya yang lebih jelas.
4.      “Memang saya sulit dikontrol...”
Penjelasan :
Tuturan tersebut memberikan kesepakatan terhadap pernyataan pembawa acara yang mengutip berita media-media bahwa Panglima sulit dikontrol. Penutur menyutujui dan mengatakan bahwa benar ia sulit dikontrol.
5.      “Kita perlu membuka  memori bahwa sebelum kemerdekaan dimotori oleh para kiyai sehingga para santrinya ikut berjuang memerdekan bangsa Indonesia. Sebagian besar umat Islam yang memerdekan bangsa Indonesia. Masa ada makar? Tidak mungkin masyarakat Indonesia mau menghancurkan negaranya.”
Penjelasan :
Penutur mempertegas bahwa tidak mungkin ada makar yang dilakukan di balik aksi bela Islam karena ia menganggap bahwa umat Islam yang telah berjuang memerdekan Indonesia tidak mungkin membuat kekacauan di negeranya sendiri. Penutur menunjukkan adanya ketidaksepakatan yang didahului dengan alasan yang sangat jelas sehingga tuturan di atas termasuk ke dalam maksim pemufakatan.

F.     Maksim Kesimpatian
1.      “Saya agak tersinggung karena saya umat Islam juga. Kita perlu membuka  memori bahwa sebelum kemerdekaan dimotori oleh para kiyai sehingga para santrinya ikut berjuang memerdekan bangsa Indonesia. Sebagian besar umat Islam yang memerdekan bangsa Indonesia.”
Penjelasan :
Berdasarkan pertanyaan pembawa acara yakni ‘Bagaimana analisis Bapak kalau aksi-aksi ini bisa mendomplengi aksi kudeta Jokowi?’, Penutur langsung saja menunjukkan rasa simpatinya kepada umat Islam sebagai pendemo yang diduga berupaya mengudeta Presiden Jokowi. Ia bisa merasakan apa yang dirasakan para demonstran yang muslim jika dituduh ingin makar ke pemerintah karena demonstran yang menuntut keadilan juga sama seperti dirinya yang memeluk agama Islam. Penutur menganggap bahwa umat Islam justru yang berperan besar saat memerdekan Indonesia sehingga tidak mungkin akan menghancurkan negaranya sendiri.
Berdasarkan deskripsi hasil penelitian di atas terlihat bahwa (1) maksim kebijaksanaan diterapkan sebanyak dua kali dan dilanggar sebanyak 2 kali pula; (2) maksim kedermawanan digunakan sebanyak dua kali; (3) maksim penghargaan ada sebelas bentuk tuturan, satu ada pelanggaran dan sepuluh merealisasikan maksim penghargaan; (4) maksim kesederhanaan sebanyak empat kali penerapan; (5) maksim pemufakatan ada lima bentuk tuturan, satu tuturan melanggar indikator maksim kesepakatan, tiga tututan menyatakan ketidaksepakatan tapi menyertakan alasan sehingga tetap tergolong maksim pemufakatan, dan ada satu tuturan bentuk kesepakatan; (6) maksim kesimpatian hanya diterapkan sebanyak satu kali.
Dapat dibuktikan bahwa sang Jenderal Panglima berada pada taraf sangat santun karena telah mampu menerapkan enam maksim dalam prinsip kesantunan berbahasa. Namun, frekuensi penggunaan maksim penghargaan sangat tinggi di antara maksim lainnya, dapat pula dipredikatkan bahwa panglima TNI dalam bertutur itu sangat apresiatif. Dari hasil penelitian ditunjukkan bahwa Panglima TNI dua kali melanggar maksim kebijaksanaan, satu kali pelanggaran terhadap maksim penghargaan, satu tuturan melanggar maksim pemufakatan. Dengan demikian, karena bentuk penerapan lebih banyak daripada bentuk pelanggaran maksim kesantunan oleh Panglima TNI, dapat dinilai bahwa Panglima TNI sangat santun.

Jika jodoh itu kamu, maka aku salah berharap tentang jodoh!

Senin, 05 Juni 2017

Kepada calon Imamku...
Kepada calon jodohku...

Aku tidak tahu siapa kamu.
Tapi, hari ini ada seseorang yang terindikasi 'jodoh'.
Dia orang yang bersamaku selama empat tahun ini.
Kali ini, aku bicara ke 'jodoh, dia bisa menganggap bahwa dia itu 'jodoh' atau terserah.

Hai, jodoh.
Kamu adalah laki-laki, tentu.
Kamu menginginkan perempuan yang bisa membahagiakanmu, benarkah?
Kamu mengidamkan perempuan yang kelak menjadi bidadari surgamu, betul?
Lalu, kamu punya apa untuk memiliki perempuan yang kau inginkan?

Perkenalkan, saya Wida Wahyuni.
Aku bukan perempuan yang berasal dari keluarga dengan pegangan agama yang kuat.
Aku bukan perempuan yang memiliki masa lalu tanpa malu.
Aku bukan perempuan yang menjamin kesucian itu masih kokoh.
Aku bukan perempuan yang tak pernah tak memperlihatkan aurat yang seharusnya milikmu.
Aku bukan perempuan yang sehari-harinya dihabiskan untuk beribadah.
Aku bukan perempuan yang selalu dikelilingi dengan hal kemuliaan.

Hai, jodoh.
Aku punya keluarga yang masih selalu berusaha meningkatkan ibadahnya.
Aku punya Ayah yang bukan seorang tokoh agama penting, pejabat terhormat, pengusaha terpandang.
Aku punya Ibu yang bukan seorang ustadzah, hafidzah, nyonya sosialita.
Aku punya kakak yang tidak berwibawa menjagaku dan melindungiku.
Aku punya adik yang tidak benar-benar menghormatiku.
Keluargaku penuh dengan kemerawautan.
Keluargaku tidak berderajat tinggi.
Keluargaku jauh dari namanya berpendidikan tinggi.
Keluargaku lebih memiliki pengalaman tidak mengenakkan daripada yang menyenangkan.
Keluargaku, ada yang menganggap kami semua hina.
Ayah-Ibu yang aku panggil mama-bapak itu masih dalam tahap penyempurnaan ibadah.
Mereka masih sering 'tidak sengaja' melakukan hal yang dilarang Tuhan.
Kakak-Adikku pernah melakukan kesalahan fatal.


Hai jodoh.
Aku bukan dan tidak berasal dari keluarga yang keluargamu harapkan.

Hai, jodoh.
Tahukah kamu bahwa masa lalu bukan lagi tempatku berpijak?
Lalu, buat apa aku mempermasalahkan itu?
Aku memiliki masa lalu yang kelam.
Aku sering melakukan kesalahan ketika lalu.
Aku pernah 'berantakan'.
Masa lalu ku tidak baik, tidakkah kamu enggan menerimanya?
Yah, silahkan.
Aku lebih baik memberitahumu bahwa masa lalu ku buruk meskipun jika kenyataannya tidak.
Aku tidak mengingkan jodoh yang akan menghina masa laluku.
Meskipun buruk masa lalu itu, setidaknya masa lalu mengajarkanku banyak hal.
Aku bersyukur bahwa masa lalu yang sempat kulalui itu berduri tajam dan terasa pahit dalam ingatan, tapi aku bisa mendapat hikmah yang bejibun dari kesuraman hidup pada masa lalu.
Aku tidak memaksa jodoh menerima masa laluku.
Aku lebih baik ditinggalkan karena masa laluku.
Itu akan membuatku merasa lebih damai jika ditinggalkan karena masa lalu.

Hai, jodoh. Iya, kamu. Kamu yang membaca ini pasti bertanya siapa jodoh itu? saat itu aku berbicara dengan kamu sebagai pembaca yang kukenal sejak empat tahun lalu.
Kamu tentu tahu bahwa kesucian tidak bisa kujanjikan kepada engkau.

Hai, jodoh.
Jika sedari dulu aku telah mengenakan penutup aurat yang sesuai syariat Islam, bukankah sebaiknya aku tidak ingin mengenalmu sekarang?
Kini saya dalam pencarian jati diri.
Proses berhijrah ku memakan waktu lama.
Jika kau merasa jijik mengenai caraku mengumbar urat sebelum tiba saatnya aku berkerudung transparan, aku mempersilahkan kamu pergi!
Aku tidak melalui cara instan untuk berpakaian santun.
Aku membawa pemikiran yang Islami untuk belajar syariat Islam.
Aku dulunya perempuan yang senang mengumbar aurat.
Tetapi, kedewasaanku yang tanpa tersentuh paksaan siapapun akhirnya aku memahami hal-hal yang tidak sepatutnya aku lakukan.
Aku perlahan belajar menutup aurat dengan lembaran kain tipis menyelimuti rambutku.
Kemudian, aku belajar mengenakan bawahan yang tidak terbelah dan mulai mengulurkan kain ke bagian dada.
Lalu, kini aku belajar bergamis dan berkhimar.
Kemudian, kamu masih sering menghakimiku dengan hujatanmu atas masa lalu ku yang sangat buruk itu.
Lucu sekali yah kamu jodoh!
Kamu lantas mencari perempuan sesempurna apa?
Kamu mencari perempuan yang berasal dari keluarga baik-baik yang tidak pernah diizinkan keluar rumah tanpa penutup kelapa?
Aku mempersilahkanmu mencari seperti itu.
Aku tidak butuh kamu yang menertawakan masa laluku (walaupun pahit, tapi itu adalah jembatanku untuk berhijrah).

hai, jodoh.
kamu mencari perempuan rajin beribadah? benarkah?
aku bukanlah perempuan yang sejak baliq telah tekun beribadah.
tidak.
aku hanyalah perempuan yang belajar sholat dari sekolah.
aku dahulunya bukan perempuan yang waktunya dihabiskan untuk beribadah.
yah, aku lebih sering menghabiskan masa sekolahku di tempat orang-orang penganut hedonisme.
aku lebih senang bercengkerama bak seorang kapitalisme.
tapi, kini aku berusaha beribadah tepat waktu.
saat ramadhan aku berusaha melaksanakan shalat malam di mesjid.
lucunya, kamu menghardikku pergi ke mesjid dengan dalih bahwa kamu takut aku dilirik orang lain?
wah bodoh!
mau kamu apa?

hai, jodoh.
aku bukanlah orang yang memiliki teman-teman shalihah.

Silahkan, pergi.

aku tidak percaya jodoh itu dia. aku tidak percaya bahwa kamu itu jodoh.

karena jodoh yang sebenarnya akan lebih ikhlas menerima masa laluku, membimbing ku saat ini, dan mendampingiku ke masa depan.

------

kamu ingin punya jodoh sempurna?
bercerminlah engkau wahai laki-laki yang selalu merasa sempurna!
sudah sebaik apakah dirimu hingga tanpa salah kau leluasa mengataiku?
seindah apakah masa lalumu hingga menghina masa laluku?
sudah jelaskah masa depanmu?
jika kau tidak menginginkanku dengan masa lalu yang kubawa, silahkan pergi.
jika kau menginginkan perempuan yang tidak akan menyakitimu, maka jangan pernah berani meneteskan air mata perempuan.

-----

aku berharap ada perempuan lebih baik untukmu.
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS